CERITA MUDIK LEBARAN

CERITA MUDIK LEBARAN

Cerita Mudik Lebaran

Cerita Mudik Lebaran-Tulisan cerita mudik ini merupakan latihan kedua saya dalam menulis artikel pengalaman pribadi yang ditugaskan oleh pesantren sintesa. Disini saya akan bercerita tentang mudik lebaran.

Sebelumnya, saya masih bingung mau bercerita apa di artikel ke dua saya ini. Banyak  ide yang bermunculan namun bingung memilih mana yang akan saya tulis. Setelah beberapa saat berfikir, saya memutuskan untuk bercerita tentang mudik lebaran.

Walaupun sudah menentukan topik yang akan saya tulis, masih ada ganjalan-ganajalan, yaitu bagaimana saya mengatur alur cerita.

Tanpa fikir panjang, akupun menulis paragraf diatas, hehehe. Begitulah pemanasan saya untuk mengawali menulis. Kalo gak begitu trus kapan saya mulai?  Semoga lancar dan dapat difaham cerita berikut saya ini.

Mudik Lebaran Hal yang Ditunggu-tunggu

Sejak kecil, saya dan keluarga hampir mudik lebaran dua kali dalam setahun sebagaimana umumnya masyarakat Indonesia, khsususnya masyarakat jawa. Itulah kebiasaan mereka, walaupun ada yang satu kali dan ada yang dua kali mudik dalam satu tahun.

Namun menurut saya pribadi, hal yang paling mengesankan adalah mudik lebaran itu di masa kecil saya. Ketika itu, mudik lebaran merupakan hal yang menyenangkan buat saya pribadi. Dimana sebelum melakukan mudik, hati ini berbunga-bunga. Kenapa begitu?

Tentunya banyak hal yang mengiringi sehingga hati ini berbunga-bunga sebelum berangkat. Yang saya rasakan ketika itu adalah saya akan ketemu dengan kakek, nenek, pakde, bude, paman, bulek dan kakak sepupu serta adik sepupu.

Dan juga hal-hal  yang sangat saya tunggu-tunggu ketika itu adalah melihat sapi dan pergi ke sawah. Maklum, orang kota kan jarang melihat sapi dan sawah. Apalagi masih kecil.

sawah
pixabay.com

Berangkat Mudik Lebaran Ke Desa

Kita semua sering melihat dan mendegar info mudik dari beberapa chanel televisi. Apalagi ketika waktu dahsyatnya mudik lebaran idul fitri. Sebagian  chanel televisi mengabarkan “untuk mudik kali ini terjadi kemacetan di jalan tol cikampek …bla…bla…bla…” kurang lebihnya begitu.

mudik bersama
teras.id

Memang ada beberapa tempat yang sudah dikenal oleh masyarakat jawa sebagai tempat titik macetnya perjalanan, yaitu beberapa daerah di jawa barat. Adapun di daerah jawa tengah lebih sedikit tempat macet dan tidak seberapa macet jalan raya-nya.

Karena kita tinggal di jawa tengah, lebih tepatnya di kota Solo dan tempat tujuan mudik kami di Wonogiri,  maka kami jarang terkena macat. Walau pun begitu di kota solo pun juga terasa loo kalo hari-hari tersebut hari mudik. Kenapa begitu?

Sebab, di samping-samping jalan utama di kota Solo terdapat banyak camp-camp peristirahatan. Yaitu: Camp-camp yang diadakan oleh beberapa aliansi, oramas ataupun pihak kepolisian sebagai tempat peristirahatan.

posko mudik solo
kabmagelang.pks.id

Ya begitulah, mari kita masuk ke inti bagian ini.

Setelah ayah saya pulang kerja dari Jakarta dan kami pun juga telah melaksanakan sholat iedul fitri, maka biasanya kita akan pulang kampung. letak kampung kami tepatanya di dk. Dayu, ds. Sambiharjo, Kec. Eromoko, Wonogiri.

Sebelum mempunyai kendaraan bermotor, kita pulang kampung dengan naik bus jurusan solo-wonogiri. Masih teringat sekali dalam benak saya nama bis tersebut, yaitu bus sarigiri.

Ketika ayah sudah membeli kendaraan bermotor, maka kita pulang kampung dengan kendaraan bermotor. Namun, tidak semuanya naik kendaraan bermotor, karena motornya tidak bisa menampung kita semua. Sebagian dari kita masih tetap naik bis.

Aku Teler Ketika Mudik Lebaran

Seperti umumnya, manusia ada yang suka terhadap sesuatu dan ada juga yang tidak suka dengan sesuatu tersebut. Mungkin ada yang hobi bepergian dengan bus dan ada juga yang hobi bepergian dengan kereta.

Saya termasuk orang yang tidak bepergian dengan bus, mobil dan truk. Yang saya sukai adalah bepergian dengan kendaraan bermotor dan naik kereta. Kalau pesawat belum pernah, ketika itu (waktu saya kecil).

Saking tidak suka perjalanan dengan bus (bukan berarti kalau diberi bus tidak mau, hehehe)  , saya langsung terasa pusing, perut mual dan pasti muntah. Mungkin ada teman bertanya; kalau sudah diberi minum obat bagaimana?

jawabnya, sama saja, obat  (antimo) yang saya minum tidak memberikan efek sama sekali buat saya. saya pun tetap muntah. parah! begitu juga ketika saya bepergian dengan mobil.

Alhamdulillah-nya, sekarang sudah kebal. tidak mabuk walaupun harus pakai bus yang biasa.

Mudik Lebaran bersama Kakek

Selain kedua orang tua yang selalu di dalam hati, ada seorang kakek yang selalu teringat dalam ingatanku. Kakek yang selalu baik terhadap anak cucunya. Bagaimana itu ?

Oke, langsung saja ya. Kakek saya adalah seorang dukun, tapi bukan paranormal ya, alias dukun pijat. Setiap harinya beliau mencari nafakah untuk menghidupi keluarganya dengan meminjat orang yang sedang sakit ataupun yang tidak enak badannya.

tukang pijat
pixabay.com

Alhamdulillah, banyak orang yang cocok dengan pijetan beliau. Yang sakit, dengan pijatan beliau, Allah sembuhkan. Yang tidak enak badan, setelah dipijat beliau, Allah izinkan ke tidak enakan badannya.

Ini dia intinya, selain beliau sering memijat orang lain, beliau juga sering memijat cucu-cucunya ketika kita lebaran di kampung. Seingat saya, kakak dan adik serta saya pernah dipijat beliau.

Namun setelah tahun 2004, kami tidak merasakannya lagi. Sebab, telah tiba ajal beliau. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Pegi Ke Sawah

sawah petani
pixabay.com

Ketika kita pulang kampung, ada beberapa hal yang sering kita lakukan. Dari beberapa hal tersebut ada yang lumayan mengesankan. Berikut kisahnya:

Ketika itu musim kemarau yang menyelimuti hari-hari di desaku. Banyak orang desa ketika musim kemarau menanam kacang panjang, singkong, ubi, wortel, oyong dan mentimun. Begitu juga keluargaku menanam seperti yang mereka tanam.

Kita berangkat pagi-pagi ke sawah bersama-sama. Kita mamanen mentimun dan oyong yang sudah siap dipanen. Kakek berdiri menerangkan kriteria mentimun dan oyong yang sudah siap dipanen.

Setelah beliau menerangkan, kita pun beranjak memetik oyong dan mentimun satu persatu. Lalu kami kumpulkan semuanya menjadi satu.

Ternyata waktu sudah sangat siang dan kitapun juga sudah lelah. Waktu terasa cepat. Saya pun sadar bahwa bertani itu memang sangat menguras tenaga dan waktu. Dalam benakku, terimakasih para petani yang sudah payah memberikan sumbangsih kepada kita semua.

Kemudian datanglah sepupu saya dengan membawa rantang yang berisikan lauk, sayur dan sambal besarta nasi. Lalu, kitapun menyantap makan siang ditengah sawah dengan merasakan angin yang sepoi-sepoi.

Setelah makan, kita pun pulang untuk melakukan sholat dzuhur berjamaah. Kakek dan paman pulang dengan membawa mentimun dan oyong panenan ke rumah sedangkan kami tidak.

Ternyata hal yang demikian ini, hal yang sangat mengesankan buat saya. dari mulai pergi sawah pagi-pagi kemudian memanen, setelah capek memanen datang makanan lalu kita menyantapnya. Gembiranya hati ini. walaupun tersa capek namun kegembiraan saya bisa mengalahkan rasa capek.

Cukup sekian cerita saya.

Tinggalkan komentar