hikmah di balik kejadian

Hikmah di balik Kejadian

Hikmah di balik Kejadian- Waktu kenaikan kelas telah dekat. Kita semua telah menghabiskan waktu di pondok pesantren selama kurang lebih dua setengah tahun untuk berjuang bersama, hidup bersama, makan bersama, dan belajar bersama di bawah satu atap.

Sekarang, waktu tinggal tersisa setengah tahun lagi. Ujian kelulusan kelas smp sudah mendekati kita. Sudah barang tentu, kenaikan kelas ke jenjang aliyyah  hampir di ujung bulan. Para ustadz pun mulai mempersiapkan materi ujian, baik ujian tertulis, ujian akhlak, dan ujian hafalan. Murid-murid  juga mulai mengulangi hafalan dan pelajaran sebagia persiapan ujian yang lumayan besar targetnya.

Target kelulusan minimal dengan rata-rata enam dengan maksimal nilai merah ada tiga, untuk bidang pelajaran. Adapun dalam bidang tahfidz, target santri paling sedikit enam juz dan 100 hadits yang harus sudah disetorkan kepada guru, walaupun tidak sekali duduk.

Oleh karenanya, ruangan itu bagaikan dikerumuni banyak orang seakan-akan ada sesuatu yang menghebohkan. Ruangan  yang saya maksud adalah masjid. Para santri mulai menggenjot hafalan. Yang belum hafal semangat menghafal. Yang  sudah hafal, Semangat mengulangi hafalan . Suara mereka saling bersautan bagaikan dalam perlombaan.

Semua santri setiap pagi dan sore mencari seorang ustadz untuk setor hafalan. Silih berganti antar mereka sehingga waktu pun mulai tak terasa, sangat cepat berlalu.

Satu Bulan sebelum Kenaikan Kelas

Setelah beberapa bulan berlalu, kita pun berada di bulan Sya’ban dan waktu kenaikan kelasa sisa satu bulan.

Suasana pondok mulai berbeda. Dulu hafalan dengan santai sekarang hafalan dengan semangat. Semakin waktu ujian mendekat, semakin pula semangat hafalan mereka yang diselimuti oleh rasa harap-harap cemas.

Singkat cerita, berdiri seorang ustadz, wali kelas tiga, di depan kantor sambil memanggil, “ ya waladii, ta’al !” yang artinya; wahai anakku kesini.

Datanglah anak tersebut dan guru pun memberi pesan bahwa ketua kelas hendak datang ke kantor.

Dia pun mengkabari ketua kelas. Ketua kelas pun bergegas memenuhi panggilan seorang ustadz di kantor.

Kemudian diketuk pintu kantor olehnya sambil mengucapkan salam; “assalamualaikum”. Wa’alaikumussalam, terdengar jawaban dari seorang ustadz dan beliau pun keluar.

Ringkasnya, Ustadz tersebut memberitakan bahwa nanti malam akan diadakan ijtima santri kelas tiga smp dengan beliau.

Setelah waktu sholat isya’ selesai, kita santri kelas tiga berkumpul dalam kelas. Setelah duduk sudah rapi, ketua kelas memberitahukan kepada ustadz tersebut untuk bahwa santri sudah siap.

Datanglah ustadz tersebut. Lalu dimulailah ijtimanya dengan basamalah dan shalawat kepada rasul.

Ustadz membahas tentang nilai anak-anak yang masuk pada beliau.  Beliau pun menyebutkan satu persatu. Kemudian mengadakan percakapan ringan dengan para santri.

Kesedihan Melanda Teman-teman

Di waktu ijtimak itu, ustadz  menyebutkan beberapa anak yang secara nilai tidak bisa mengikuti ujian kenaikan kelas . Dengan kata lain mereka harus tinggal kelas. Karena para santri tersebut belum memenuhi syarat nilai untuk mengikuti ujian kenaikan kelas.

Saya agak lupa berapa jumlah murid yang tidak bisa mengikuti ujian kenaikan kelas tersebut. Namun, pastinya lebih dari empat orang.

Teman-teman yang disebut namanya terlihat gelisah. Namun begitu, Ustadz mulai menghibur mereka.

Singkat perkataan beliau: “Ini merupakan ujian dan jadikan kegagalan ini sebagai keberhasilan sesudahnya” perkataan yang mirip maknanya dengan ucapan “kegagalan itu kesuksesan yang tertunda.”

Dengan begitu, keadaan mereka lebih fress, walaupun mereka harus nganggur satu bulan penuh tidak ada pelajaran namun harus tetap di pondok pesantren.

Untuk saat ini, mereka masih ikut pelajaran karena masih ada waktu pelajaran selama dua minggu, dan tidak ikut setor hafalan.

Sedangkan teman-teman yang belum selesai hafalannya dan nilai mencukupi untuk ujian, mereka  dipersilahkan untuk menyelesaikan setoran hafalan sebanyak  enam juz dan 100 hadits.

Kegelisahan Melanda Diriku

Waktu tersisa tiga minggu dari waktu ujian, saya termasuk dari mereka yang diberi waktu untuk mengajukan hafalan sebab belum selesai setor hafalan.

Pada tiga minggu itu,  saya mendapat giliran 2 kali dalam seminggu untuk setor hafalan.

Hafalan saya pun selalu saya setorkan.  Pagi saya mengulangi hafalan. Siang dan sore harinya,  saya setoran hafalan jika ustadz Yusuf (penyimak setoran hafalan saya) tidak sibuk. Rutin saya dan sebagian teman melakukan itu semua.

kegiatan bermanfaat santri

pixabay.com

Alhamdulillah teman-teman pada lolos pada seleksi ini sedangkan saya belum selesai. Sebab, mereka sudah lancar sedangkan saya belum lancar.

Dengan berjalannya waktu, kesempatan mengajukan hafal pun habis. Namun, hafalanku juga belum disimak semua. Kalau sudah begini, berarti Takdir sudah mengatakan lain. Namun, saya masih berfikir positif dan ingin ikut ujian di Solo.

Setelah satu hari, saya datang kepada ustadz yang bertanggung jawab atas keberangkatan santri yang ikut ujian  ke solo. Ustadz! uridu an asalakum saian, hal yajuzu li an attabial imtihan?. Pakai bahasa arab karena wajib berbicara bahasa arab. Yang artinya : Ustadz! saya mau tanya sesuatu; saya boleh ikut ujian tidak ?

Beliau pun menjawab dengan kembali bertanya; “qodintahaita minal hifdzi?” yang artinya kamu sudah selesai hafalan ?

Saya pun menjawab; sabiqon qod qoddamtu hifdzi tamaman, lakinal an lam antahi fi taqdimihi. Artinya: dulu (sebelum ini) saya sudah mengajukan hafalan saya (6 juz dan 100 hadits) semuanya, namun sekarang, saya belum selesai mengajukkannya.

Beliau pun menjawab; tsumaa kaif? Yang artinya; lalu bagaimana?

Kemudian saya bingung. Saya pun berfikir sejenak dan meminta izin kepada ustadz untuk kembali ke kelas.

kegelisan- hikmah di balik kejadian

www.brilio.net

Masih dalam  kebingunan.

Saya pun bertanya kepada beberapa orang teman dan semuanya juga bingung menjawabnya. Maka oleh karena itu, saya putuskan untuk tidak ikut bersama teman-teman untuk ujian.

Dengan begitu, saya juga senasib dengan teman-teman yang selumnya diputuskan tidak bisa ikut ujian.

Selama bulan itu, saya masih dalam kesedihan dan tidak ada kegiatan sehingga diri ini tidak betah di pondok dalam keadaan yang seperti itu.

Saya pun mencari obat gelisah. Akhirnya saya main ke kelas TKH, singkatan dari takhasus.

Kakak kelas yang berada di Kelas TKH hanya mendapat jam pelajaran di pagi hari. Siang dan sore hari tidak ada jam pelajaran, namun mereka  bertugas mencari makan kambing dll.

Saya pun izin untuk ikut mereka. Siang hari berangkat sama mereka mencari makan kambing. Sore harinya, setelah sholat ashar, kita memberikan makan kambing dan memerahnya. Sebab kambing yang ada adalah kambing etawa, penghasil susu.

Alhamdulillah dengan kegiatan itu, saya sedikit lupa dengan kegelisahan yang melanda diri saya. Itu berlangsung hingga datang masa liburan. Tepat satu bulan penuh.

Sebelum lanjut cerita, izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada Bang Thoyyib dan Kang Musa. Mereka berdua adalah kakak kelas (santri TKH) yang menemani saya mencari makan kambing “ngarit“, sehingga sedikit hilang kegelisahan saya.

Singkatnya, waktu liburan santri datang, saya pun pulang ke rumah sembari mengatakan maaf kepada bapak ibu, karena saya gagal ikut ujian tes ke tingkat aliyyah.

Alhamdulillah bapak dan ibuku membesarkan hatiku dan menasehati diri saya.

Diwaktu liburan, saya berkumpul dengan teman. Salah seorang teman memberitahu saya bahwa pak Kiai kemaren mengabsen nama-nama santri yang ikut ujian, ternyata beliau menyebut nama saya. Kemudian teman-teman menjawab, zuhud masih di pondok karanganyar.

Saya pun agak sedih, namun bagaimana lagi hal tersebut sudah terjadi.

Tahun Setelahnya

hikmah di balik kejadian

infolokerharian.blogspot.com

Tahun ajaran baru ini, saya bertekad untuk bisa ikut ujian dengan memaksimalkan hafalan saya. Alhamdulillah, hafalan saya pun sudah cukup untuk ikut ujian.

Singkat cerita, saya mengikuti ujian dan alhamdulillah saya mendapat nilai yang cukup bagus dan masuk tingkat aliyyah. Di kelas aliyyah, saya dimudahkan oleh Allah hingga kelulusan.

Ketika membuat karya ilmiah, saya bisa menyusul teman-teman saya yang dulu, bahkan saya bisa lulus lebih dulu dari beberapa teman.

Dengan begitu, saya dapat mengambil pelajaran bahwa dulu saya tidak naik kelas karena belum betul-betul siap. Dan ketika siap, alhamdulillah, dimudahkan oleh Allah.

“Persiapkan dan Lakukan Sebaik mungkin Apa yang ada di Hadapanmu Saat ini, Tidak usah cari yang tidak ada atau yang belum pasti”

 

Cukup sekian cerita saya mudah-mudahan bermanfaat.

 

 

Leave a Reply