hukum mengucapkan selamat natal

Ini Dia Hukum Mengucapkan Selamat Natal Kepada Orang Nashara !

HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT HARI NATAL – Setiap tanggal 25 Desember, orang Nashara merayakan hari Natal yang merupakan salah satu hari raya mereka. Banyak di antara muslimin yang mengucapkan selamat  Natal kepada mereka, baik secara langsung maupun dengan kartu selamat atau melalui hand phone, sebagai wujud toleransi dalam agama.

Penulis mendapati banyak di antara ulama yang memfatwakan haramnya mengucapkan selamat Natal kepada orang Nashara, seperti Ibnul Qayyim [1] dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin [2]. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula di antara cendekiawan muslim, seperti M. Quraish Shihab [3] dan Zuhairi Misrawi [4] menyatakan bahwa hal tersebut boleh.

Berdasarkan fakta di atas, penulis terdorong untuk meneliti lebih lanjut perihal pengucapan selamat Natal kepada orang Nashara dan menyusunnya menjadi sebuah makalah yang berjudul HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL KEPADA ORANG NASHARA.


Footnote:

[1] Lihat Ahkamu Ahlidz Dzimmah susunan Ibnul Qayyim, jld. 1, hlm. 205.

[2] Lihat Majmu’u Fatawa wa Rasa`ili Fadlilatisy Syaikhi Muhammadibni Shalih Al-‘Utsaimin susunan Fahd As-Sulaiman, jld. 3, hlm. 32.

[3] Lihat 1001Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui susunan M. Quraish Shihab, hlm. 592 dan Membumikan Al-Qur`an susunan M. Quraish Shihab, hlm. 579.

[4] Lihat Al-Qur`an Kitab Toleransi susunan Zuhairi Misrawi, hlm. 315-316.



PENGERTIAN NATAL DAN NASHARA

hukum mengucapkan selamat natal

youtube.com

  1. Pengertian Natal

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa Natal adalah kelahiran Isa Al-Masih (Yesus Kristus). Sedangkan hari Natal adalah hari raya untuk memperingati kelahiran ‘Isa Al-Masih (tanggal 25 Desember). [1]

  1. Pengertian Nashara

Secara etimologi, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari menerangkan bahwa kata “Nashara (النَّصَارَى)” adalah bentuk jamak dari kata نَصْرَانُ yang berarti “penolong”. Namun kata نَصْرَانِيٌّ lebih dikenal oleh orang-orang Arab.[2]

Abu Bakar Al-Jaza`iri menerangkan bahwa Nashara adalah kaum salib. [3] Ahmad ‘Abdul Qadir Ar-Rifa’i menerangkan bahwa Nashara adalah para penyembah salib. [4] Sedangkan Ibnul ‘Utsaimin menerangkan bahwa Nashara adalah orang-orang yang dinisbatkan kepada agama ‘Isa ‘alaihis salam. [5]

Pengertian-pengertian di atas sebenarnya tidak bertentangan, bahkan saling melengkapi antara satu dengan lainnya, karena kaum salib menisbatkan dirinya kepada agama ‘Isa ‘alaihis salam  dan menyembah salib.

Adapun dalam hal penyebutan Nashara dengan “Kristen” dalam bahasa Indonesia, K.H. Agus Hakim menerangkan sebagai berikut :

Adapun kata-kata Chistus berasal dari bahasa latin (christus) yang berarti juru selamat atau penebus.

Kata-kata christus atau christen tidak pernah dikenal oleh ummat Nabi Isa yang pertama (Nasrani asli). Timbulnya kata-kata ini setelah munculnya faham Trinitas dalam kalangan penganut Nasrani, apalagi setelah orang-orang Romawi menganut agama Nasrani menganut aliran Trinitas (Bertuhan tiga).

Sebutan Christus atau penebus terhadap diri Isa Al-Masih sesuai dengan ajaran yang diberikan oleh Saul (Paulus) yang telah merombak atau merusakkan ajaran-ajaran Nasrani ini dari dalam. [6]

Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa Nashara adalah orang yang menisbatkan dirinya kepada agama ‘Isa ‘alaihis salam dan menyembah salib atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan orang-orang Kristen.


Footnote:

[1] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), hlm. 954.

[2] Lihat Jami’ul Bayani fi Tafsiril Qur’an susunan Ath-Thabari, jld. 1, hlm. 252.

[3] Lihat Aisarut Tafasir susunan Al-Jaza`iri, jld. 1, hlm. 54.

[4] Lihat Kitabu Hidayatil Hayara fi Ajwibatil Yahudi wan Nashara susunan Ibnul Qayyim, hlm. 79, footnote no. 2.

Ahmad ‘Abdul Qadir Ar-Rifa’i menyatakan bahwa sebenarnya Nashara tidak menyembah salib, akan tetapi salib hanya digunakan sebagai tanda penyebaran ajaran bagi mereka. Karena seorang penginjil tidak dianggap sebagai penginjil apabila tidak membawa salib (lihat Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahudi wan Nashara susunan Ibnul Qayyim, hlm. 79, footnote no. 2).

[5] Lihat Tafsir Ibnil ‘Utsaimin susunan Al-‘Utsaimin, jld. 1, hlm. 369.

[6] K.H. Agus Hakim, Perbandingan Agama, hlm. 93.


DALIL-DALIL YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL KEPADA ORANG NASHARA

1.    Surat Al-Ma`idah (5) Ayat 73

  • Lafal Ayat dan Artinya

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْا إِنَّ اللهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَ مَا مِنْ إِلَهٍ إِلاَّ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَ إِنْ لَمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ . المائدة (5) : 73 

Artinya:

Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah yang ketiga dari yang tiga. Padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, sungguh benar-benar azab yang pedih akan menimpa orang-orang yang kafir dari mereka. S. Al-Ma`idah (5) ayat 73.

  • Maksud Ayat

Maksud ayat yang berkaitan dengan makalah ini adalah orang yang mengatakan bahwa Allah adalah yang ketiga dari yang tiga itu dihukumi sebagai orang kafir.

2.    Surat Maryam (19) Ayat 33

  • Lafal Ayat dan Artinya

وَ السَّلاَمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَ يَوْمَ أَمُوْتُ وَ يَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا . مريم (19) : 33

Artinya:

Dan keselamatan terlimpah kepadaku (Isa ‘alaihis salam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku mati, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. S. Maryam (19) ayat 33.

  • Maksud Ayat

Maksud ayat yang berkaitan dengan makalah ini ialah keselamatan dicurahkan oleh Allah kepada ‘Isa ‘alaihis salam di waktu beliau lahir, mati, dan dibangkitkan kembali setelah kematiannya.

3.    Surat Az-Zumar (39) Ayat 7

  • Lafal Ayat dan Artinya

إِنْ تَكْفُرُوْا فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلاَ يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَ إِنْ تَشْكُرُوْا يَرْضَهُ لَكُمْ … (7) .  الزمر ( 39 ) : 7

Artinya :

Jika kalian kafir, maka sesungguhnya Allah tidak membutuhkan kalian. Dan Dia tidak meridlai kekafiran bagi hamba-hambaNya. Dan jika kalian bersyukur, Dia meridlainya bagi kalian … . S. Az-Zumar (39) ayat 7.

  • Maksud Ayat

Maksud ayat yang berkaitan dengan makalah ini ialah Allah tidak meridlai kekafian bagi para hamba-Nya.

4.    Hadits Anas bin Malik Radliyallahu ‘anhu tentang Penggantian Hari Raya Jahiliyyah yang Biasa Dirayakan Penduduk Madinah dengan ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha

  • Lafal Hadits dan Artinya

عَنْ أَنَسٍ قَالَ : قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ ، فَقَالَ : ” إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا : يَوْمَ الْفِطْرِ ، وَيَوْمَ النَّحْرِ ” . رَوَاهُ أَحْمَدُ 1

Artinya:

Dari Anas, dia berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, sedangkan mereka (penduduk Madinah) mempunyai dua hari yang mereka (biasa) bermain-main padanya semasa jahiliyyah, maka beliau bersabda, ’Sesungguhnya Allah sungguh telah mengganti keduanya bagi kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, (yaitu) ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha’.

Ahmad telah meriwayatkanya. [2]

  • Maksud Hadits

Maksud hadits ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengganti dua hari besar Jahiliyyah yang biasa dirayakan oleh penduduk Madinah dengan ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha.

PENDAPAT ULAMA TENTANG HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL KEPADA ORANG NASHARA

1.   Boleh

Pendapat bolehnya mengucapkan selamat Natal kepada orang Nashara ini diutarakan oleh Zuhairi Misrawi [3] dan M. Quraish Shihab [4].

Zuhairi Misrawi dalam bukunya “Al-Qur`an Kitab Toleransi” menyatakan bahwa ayat 30 sampai 33 dari surat Maryam menjelaskan beberapa hal penting dalam ajaran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam dan anjuran untuk mengucapkan selamat Natal. [5]

2.   Haram

Haramnya mengucapkan selamat Natal kepada orang Nashara merupakan pendapat kebanyakan ulama, antara lain: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah [6], Syaikh Al-‘Utsaimin [7], Al-Habib Muhammad Rizieq bin Husain Syihab [8] dan Al-Ustadz KH. Mudzakkir [9].

Syaikh Al-‘Utsaimin dalam fatwanya tentang haramnya mengucapkan selamat Natal menyatakan :

تَهْنِئَةُ الْكُفَّارِ بِعِيْدِ الْكَرِيْسْمَسِ أَوْ غَيْرِهِ مِنَ أَعْيَادِهِمُ الدِّيْنِيَّةِ حَرَامٌ
بِاْلإِتَّفَاقِ .
10 

Artinya :

Mengucapkan selamat (kepada) orang-orang kafir dengan hari Natal atau hari-hari raya keagamaan mereka yang lain itu haram secara mufakat.


Footnote:

[1] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, jld. 19, hlm. 65, h. 12006.

[2] Lihat Sunanu Abi Dawud susunan Abu Dawud, jld. 1, hlm. 267, k. 2 Ash-Shalah b.Shalatul ‘Idaini, h.1134.

[3] Lihat Al-Qur`an Kitab Toleransi susunan Zuhairi Misrawi, hlm. 316.

[4] Lihat 1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui susunan M. Quraish Shihab, hlm. 592 dan Membumikan Al-Qur`an susunan M. Quraish Shihab, hlm. 580.

[5] Lihat Al-Qur`an Kitab Toleransi susunan Zuhairi Misrawi, hlm. 316.

[6] Lihat Ahkamu Ahlidz Dzimmah susunan Ibnul Qayyim, jld. 1, hlm. 205.

[7] Lihat Asy-Syarhul Mumti’u ‘ala Zadil Mustaqni’ susunan Al-‘Utsaimin, jld. 8, hlm. 75.

[8] Lihat Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah susunan Habib Rizieq, hlm. 141.

[9] Hasil wawancara penulis dengan Al-Ustadz K.H. Mudzakkir pada Rabu, 22 Oktober 2014 di Maktabah Ma’had Al-Islam Surakarta.

[10] Fahd As-Sulaiman, Majmu’u Fatawa wa Rasa`ili Fadhilatisy Syaikhi Muhammadibni Shalih Al-‘Utsaimin, jld. 3, hlm. 45.

____________________________________________________________________________________________

ANALISIS DALIL YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT HARI NATAL

1.      Analisis Surat Al-Ma`idah (5) Ayat 73 (hlm. 7)

Maksud ayat yang berkaitan dengan makalah ini adalah orang yang mengatakan bahwa Allah adalah yang ketiga dari yang tiga itu dihukumi sebagai orang kafir.

Ayat 73 dari Surat Al-Ma`idah ini menerangkan tentang kafirnya orang-orang Nashara yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari tiga Tuhan, yaitu Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Ada pula yang mengatakan Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Tuhan Ibu. [1]

Ibnu Jarir Ath-Thabari menerangkan bahwa ayat وَ إِنْ لَمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ (dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, sungguh benar-benar azab yang pedih akan menimpa orang-orang yang kafir dari mereka) berlaku secara umum, sebagaimana pernyataan beliau berikut ini:

فَعَمَّ باِلْوَعِيْدِ تَعَالَى ذِكْرُهُ كُلَّ كَافِرٍ ، لِيَعْلَمَ الْمُخَاطَبُوْنَ بِهذِهِ اْلآيَاتِ أَنَّ وَعِيْدَ اللهِ قَدْ شَمُلَ كِلاَ الْفَرِيْقَيْنِ مِنْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ وَ مَنْ كَانَ مِنَ الْكُفَّارِ عَلَى مِثْلِ الَّذِيْ هُمْ عَلَيْهِ .2

Artinya :

Maka Yang Maha Tinggi sebutan-Nya (Allah) menjadikan ancaman tersebut umum (yang mencakup) semua orang kafir supaya  orang-orang yang diajak bicara dengan ayat-ayat ini mengetahui bahwa ancaman Allah (yang berupa siksaan) meliputi dua kelompok Bani Israel (yang mengatakan bahwa Allah adalah ‘Isa Al-Masih maupun yang mengatakan bahwa Allah adalah yang ketiga dari yang tiga) dan orang-orang kafir yang (mengatakan) semisal perkataan mereka.

Abu Bakar Al-Jaza`iri juga menerangkan hal yang serupa dengan  pernyataan Ath-Thabari di atas. [3]

Dari penafsiran Ibnu Jarir Ath-Thabari dan Abu Bakar Al-Jaza`iri di atas dapat dipahami bahwa ayat لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ itu umum, supaya semua orang Nashara maupun di luar Nashara yang ikut mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari tiga Tuhan maupun yang mengatakan bahwa ‘Isa Al-Masih adalah Allah (Tuhan) akan mendapatkan azab yang pedih dan dihukumi sebagai orang kafir.

Al-Ustadz KH. Mudzakkir menjadikan surat  Al-Ma`idah ayat 73 ini sebagai dalil diharamkannya mengucapkan selamat Natal. Beliau menyatakan bahwa seorang yang mengucapkan selamat Natal berarti dia mengucapkan selamat atas lahirnya ‘Isa Al-Masih yang menurut keyakinan Nashara adalah seorang anak Tuhan. Dengan kata lain, dia telah mengakui adanya seorang anak Tuhan, padahal sebagaimana yang disebutkan dalam ayat ini bahwa seorang yang mengatakan bahwa ‘Isa Al-Masih adalah anak Tuhan maka dia dianggap kafir. [4]

Menurut penulis, pernyataan Al-Ustadz KH. Mudzakkir di atas dapat diterima. Hal itu karena apabila ditinjau dari pengertian Natal maka Natal adalah hari raya untuk memperingati kelahiran ‘Isa Al-Masih (tanggal 25 Desember). [5] Sedangkan dalam keyakinan Nashara, ‘Isa Al-Masih atau Yesus Kristus tersebut adalah anak Tuhan, sebagaimana yang disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 30 berikut :

وَ قَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ 

Artinya :

Dan orang-orang Nashara berkata (bahwa) Al-Masih itu anak Allah.

Disebutkan pula dalam Injil, Kitab Yohannes Pertama 5:5 berikut [6]:

Siapakah yang mengalahkan dunia, selain daripada dia yang percaya bahwa Yesus adalah anak Allah ?

Dengan demikian, seseorang yang mengatakan selamat Natal berarti dia mengatakan selamat atas lahirnya ‘Isa Al-Masih yang dalam keyakinan Nashara adalah anak Allah (Tuhan). Dengan arti lain, dia telah mengatakan selamat atas lahirnya anak Tuhan tersebut – subhanallah ‘amma yashifun – . Padahal, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ath-Thabari dan Al-Jaza`iri di atas, seseorang yang ikut mengatakan perkataan-perkataan Nashara tersebut dihukumi kafir.

Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa ayat ini dapat dijadikan hujah untuk mengharamkan pengucapan selamat Natal, wallahu a’lam.

2.      Analisis Surat Maryam (19) Ayat 33 (hlm. 7)

Maksud ayat yang berkaitan dengan makalah ini ialah keselamatan dicurahkan oleh Allah kepada ‘Isa ‘alaihis salam di waktu beliau lahir, mati, dan dibangkitkan kembali setelah kematiannya.

Ayat ini merupakan dalil yang digunakan oleh M. Quraish Shihab dan Zuhairi Misrawi untuk membolehkan pengucapan selamat Natal. Zuhairi Misrawi mengatakan bahwa ayat ini merupakan anjuran untuk mengucapkan selamat di hari kelahiran (Natal), hari kematian, dan hari bangkit kembali oleh Tuhan. [7]

Ath-Thabari (w. 310) menafsirkan ayat ini sebagai berikut: rasa aman yang diberikan oleh Allah kepada Nabi ‘Isa tatkala beliau dilahirkan adalah keamanan dari godaan syaithan. Sedangkan rasa aman tatkala beliau mati adalah keamanan dari kengerian pada hari pembangkitan. Adapun rasa aman tatkala beliau meninggal adalah rasa aman dari kengerian pada hari Kiamat. [8]

Fakhruddin Ar-Razi (w. 606) menukil perkataan Al-Qadhi yang menyatakan bahwa ayat ini merupakan doa ‘Isa ‘alahihis salam supaya Allah memberinya rasa aman di hari kelahiran, kematian, dan pembangkitan hidupnya di hari Kiamat. [9]

Menurut Ibnu Katsir (w. 774) ayat ini merupakan ayat yang berisi pengakuan ‘Isa ‘alaihis salam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Tuhan dan beliau adalah salah satu makhluk Allah yang juga mengalami hidup, mati dan kebangkitan setelah kematian tetapi mendapat keselamatan pada tiga keadaan di atas. [10]

Asy-Syaukani (w. 1250) menyatakan bahwa kata السَّلاَمُ mempunyai beberapa makna: Pertama, السَّلاَمَةُ (keselamatan); Kedua, التَّحِيَّةُ (penghormatan); Ketiga, huruf alif dan lam dalam kata السَّلاَمُ berfungsi sebagai alif lam lil jinsi; Keempat, huruf alif dan lam dalam kata السَّلاَمُ berfungsi sebagai alif lam al-‘ahdiyyah, sehingga maknanya menjadi: keselamatan yang diberikan kepada Yahya ‘alaihis salam dilimpahkan juga kepada ‘Isa ‘alaihis salam. [11]

Dari penafsiran-penafsiran yang penulis sebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa makna ayat وَ السَّلاَمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ adalah: Allah memberikan keselamatan kepada Nabi ‘Isa pada hari kelahirannya, atau doa beliau supaya Allah memberikan keselamatan.

Penulis tidak setuju dengan penafsiran M. Quraish Shihab dan Zuhairi Misrawi di atas karena: Pertama, setelah menelaah penafsiran ayat ini [12], tidak penulis dapati satu mufassir pun baik dari kalangan salaf maupun khalaf yang menerangkan bahwa ayat ini adalah ayat yang melegalkan pengucapan selamat Natal, sebagaimana yang sudah penulis sebutkan di atas.

Kedua, apabila dilihat dari ilmu Nahwu, susunan kalimat pada ayat 33 surat Maryam ini tergolong dalam kalam khabar (kalimat berita). Sedangkan kalam khabar itu tidak mengandung makna perintah. Dengan demikian, tidak ada indikasi anjuran untuk mengucapkan selamat Natal di hari kelahiran ‘Isa ‘alaihis salam.

Ketiga, dalam kitab Injil tidak disebutkan bahwa Nabi ‘Isa memerintahkan umatnya untuk merayakan Natal, yang ada hanyalah ayat-ayat yang menerangkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam [13]. Bahkan pada tiga abad pertama Masehi tidak ada umat Nasrani yang merayakan hari lahir Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Barulah pada awal abad keempat Masehi, perayaan tersebut mulai muncul, tetapi pada tanggal yang berbeda-beda, seperti 6 Januari, 28 Maret, 18 April, dan 28 Juni. Kemudian pada tahun 354 M, Paus Liberius di Roma memutuskan tanggal 25 Desember sebagai hari lahir Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Keputusan itu diikuti oleh gereja Roma di Konstantinopel pada tahun 375 M dan di Antakia pada tahun 387 M. Selanjutnya menyebar ke seluruh dunia hingga saat ini. [14] Dengan demikian, penafsiran Zuhairi Misrawi bahwa ayat ini menunjukan anjuran untuk mengucapkan selamat Natal adalah penafsiran yang terlalu dipaksakan.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ayat ini tidak dapat dijadikan dalil bolehnya mengucapkan selamat Natal, wallahu a’lam.

3.      Analisis Surat Az-Zumar (39) Ayat 7 (hlm. 8)

Maksud ayat yang berkaitan dengan makalah ini ialah Allah tidak meridlai kekafiran bagi para hamba-Nya.

Fakhruddin Ar-Razi menyatakan, ayat ini menerangkan bahwa Allah tidak ridla dengan kekafiran meskipun kekafiran tidak memadlarati-Nya dan keimanan tidak memberi manfaat kepada-Nya. [15]

Ibnu Katsir [16] dan Dr. Wahbah Az-Zuhaili [17] menyatakan bahwa makna وَ لاَ يَرْضَي لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ adalah Allah tidak menyukainya dan tidak pula memerintahkannya.

Adapun seseorang yang mengucapkan selamat Natal menunjukkan bahwa dia ridla dengan kekafiran. Padahal Allah tidak meridlai, tidak menyukai, dan tidak memerintahkan hal tersebut, sehingga pengucapan selamat Natal haram.

Dari uraian di atas, disimpulkan bahwa ayat ini dapat dijadikan hujah untuk mengharamkan pengucapan selamat Natal, wallahu a’lam.

4.     Analisis Hadits Anas bin Malik Radliyallahu ‘anhu tentang Penggantian Hari Raya Jahiliyyah yang Biasa Dirayakan Penduduk Madinah dengan ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha (hlm. 8)

Hadits Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu ini adalah hadits shahih [18] sehingga dapat dijadikan hujah.

Maksud hadits ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengganti dua hari raya Jahiliyyah yang biasa dirayakan oleh penduduk Madinah dengan ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha.

Menurut para ahli syarah, dua hari raya Jahiliyyah itu adalah hari Nairuz dan hari Mihrajan. [19]

Al-Mudh-hir mengatakan bahwa hadits ini adalah dalil untuk melarang pengagungan hari Nairuz, hari Mihrajan, maupun hari raya orang-orang kafir lainnya. [20]

Penulis setuju dengan pernyataan Al-Mudh-hir di atas, karena kata أَبْدَلَكُمْ pada hadits Anas ini secara jelas menunjukkan bahwa hari-hari raya selain hari-hari raya Islam telah diganti dengan ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha, sebagaimana pernyataan Ibnu Taimiyyah berikut :

أَنَّ الْعِيْدَيْنِ الْجَاهِلِيَّيْنِ لَمْ يُقِرَّهُمَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ لاَ تَرَكَهُمْ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا عَلَى الْعَادَةِ ، بَلْ قَالَ : إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا يَوْمَيْنِ آخَرَيْنِ , وَ اْلإِبْدَالُ مِنَ الشَّيْءِ يَقْتَضِيْ تَرْكَ الْمُبْدَلِِ مِنْهُ  إِذْ لاَ يُجْمَعُ بَيْنَ الْبَدَلِ وَ الْمُبْدَلِ مِنْهُ وَ لِهذَا لاَ تُسْتُعْمَلُ هذِهِ الْعِبَارَةُ إِلاَّ فِيْمَا تُرِكَ اجْتِمَاعُهُمَا .21

Artinya :

Bahwasanya dua hari besar Jahiliyyah tersebut tidak diakui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau juga tidak membiarkan mereka (shahabat) bermain-main pada keduanya sebagaimana biasanya, bahkan beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti bagi kalian dua hari tersebut dengan dua hari lain.” Dan penggantian sesuatu mengharuskan untuk meninggalkan sesuatu yang digantikan, karena ‘pengganti’ tidak dikumpulkan dengan ‘sesuatu yang digantikan’. Oleh karena itu, pernyataan ini tidak dipakai kecuali pada apa yang keduanya tidak bisa berkumpul.

Menurut Az-Zamakhsyari, makna ‘hari raya’ adalah semua hari yang diperintahkan pengagungannya. [22] Salah satu hari raya itu adalah hari Natal dan pengucapan selamat Natal itu merupakan salah satu hal yang menunjukan pengagungan terhadap hari tersebut. Padahal menurut pemahaman hadits ini pengagungan hari raya di luar Islam itu dilarang.

Berdasarkan ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hadits ini dapat dijadikan hujah untuk melarang pengucapan selamat Natal, wallahu a’lam.

___________________________________________________________________________________________

Footnote:

[1] Lihat Aisarut Tafasir susunan Al-Jaza`iri, jld 1, hlm. 540.

[2] Ath-Thabari, Jami’ul Bayani fi Tafsiril Qur`an, jld. 4, jz. 6,hlm. 202.

[3] Lihat Aisarut Tafasir susunan Al-Jaza`iri, jld 1, hlm. 540, foot note no. 2.

[4] Hasil wawancara penulis dengan Al-Ustadz K.H. Mudzakkir pada 22 Oktober 2014 di maktabah Ma’had Al-Islam Surakarta.

[5] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), hlm. 954.

[6] Al-Kitab dengan Kidung Jemaat, hlm. 289.

[7] Lihat Al-Qur`an Kitab Toleransi, Zuhairi Misrawi, hlm. 320.

[8] Lihat Jami’ul Bayani fi Tafsiril Qur`an susunan Ath-Thabari, jld. 8, jz. 16, hlm. 62.

[9] Lihat At-Tafsirul Kabir susunan Ar-Razi, jld. 11, jz. 21, hlm.185.

[10] Lihat Tafsirul Qur`anil ‘Adhim susunan Ibnu Katsir, jld 3, jz. 5, hlm 171.

[11]  Lihat Fat-hul Qadir susunan Asy-Syaukani, jld. 3, hlm. 332.

[12] Seperti Anwarut Tanzili wa Asrarut Ta`wil susunan Al-Baidlawi, At-Tafsirul Wasithu lil Qur`anil Karim susunan Ath-Thanthawi, dan Ma’alimut Tanzili fi Tafsiril Qur`an susunan Al-Baghawi.

[13] Seperti pada Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1,10,11.

[14] Lihat Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah susunan Habib Rizieq, hlm. 138.

[15] Lihat At-Tafsirul Kabir susunan Ar-Razi, jld. 13, jz. 26, hlm. 215.

[16] Lihat Tafsirul Qur`anil ‘Adhim susunan Ibnu Katsir, jld. 4, jz. 7, hlm. 65.

[17] Lihat Tafsirul Munir susunan Az-Zuhaili, jld. 12, jz. 24, hlm. 252.

[18] Lihat lampiran, no. 1, hlm. 27.

[19] Lihat ‘Aunul Ma’bud susunan Abuth Thayyib Abadi, jld. 3, hlm. 485.

[20] Lihat Faidlul Qadir susunan Al-Manawi, jld. 6, hlm. 163, h. 6106.

[21] Ibnu Taimiyyah, Fathul Mu’ini fit Ta’liqi ‘ala Iqtidla`ish Shirathil Mustaqim, hlm. 271.

[22] Lihat Fat-hul Bari susunan Ibnu Hajar, jld. 9, hlm. 151.

____________________________________________________________________________________________

ANALISIS PENDAPAT ULAMA DI ATAS

1.   Boleh (hlm. 9)

Pendapat ini diutarakan oleh Zuhairi Misrawi dan M. Quraish Shihab. Keduanya berhujah dengan ayat 33 dari surat Maryam (hlm. 7).

Surat Maryam ayat 33 menerangkan bahwa Allah memberikan keselamatan kepada Nabi ‘Isa pada hari kelahirannya, atau doa Nabi ‘Isa supaya Allah memberikan keselamatan kepadanya (lihat analisis hlm. 13). Dengan demikian, ayat ini bukan merupakan hujah untuk membolehkan pengucapan selamat Natal.

Selain berhujah dengan ayat tersebut, Zuhairi Misrawi menyatakan dua alasan. Pertama, ucapan selamat Natal merupakan praktik atau tradisi keagamaan yang sudah berkembang lama sekali, tidak hanya di tanah air tetapi di negara-negara lain juga. Kedua, ucapan selamat Natal merupakan ucapan simbolik atas hari bahagia orang-orang Kristen. Sebagai ucapan kebahagiaan maka tidak ada alasan untuk melarangnya. [1]

Adapun alasan Zuhairi Misrawi di atas, tidak dapat dibenarkan karena: pertama, meskipun ucapan selamat Natal merupakan sebuah tradisi, tetapi apabila tradisi tersebut menyelisihi syariat maka tidak boleh dilakukan, sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili ketika menerangkan syarat-syarat diterimanya suatu tradisi sebagai hukum berikut ini:

الشَّرْطُ الرَّابِعُ – أَلاَّ يَكُوْنَ الْعُرْفُ مُخَالِفًا لِنَصٍّ شَرْعِيٍّ أَوْ أَصْلٍ قَطْعِيٍّ فِي الشَّرِيْعَةِ .2

Artinya :

Syarat keempat – hendaknya suatu tradisi itu tidak menyelisihi suatu nash syar’i atau suatu asas yang pasti dalam syariah.

Kedua, meskipun ucapan selamat Natal merupakan sebuah ucapan simbolik atas hari bahagia orang-orang Kristen tetapi ucapan selamat Natal tersebut mengandung unsur kekafiran (lihat analisis hlm. 11), keridlaan terhadap kekafiran (lihat analisis hlm. 14), dan pengagungan terhadap salah satu hari raya di luar Islam (lihat analisis hlm. 15), sehingga tidak boleh dilakukan.

Adapun M. Quraish Shihab, selain berhujah dengan ayat 33 surat Maryam juga beralasan, antara lain dengan dua alasan berikut:

Pertama, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah merayakan hari diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun dengan puasa ‘Asyura`. Dengan demikian, tidak bolehkah kita merayakan hari lahirnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam dengan mengucapkan selamat Natal ? [3]

Kedua, mengucapkan selamat Natal boleh dilakukan selama akidah tetap terjaga. Sebagaimana pernyataan beliau berikut:

Tidak kelirulah dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu, bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Tetapi, tidak juga salah mereka yang membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan. [4]

Alasan pertama M. Quraish Shihab di atas tidak dapat diterima, karena puasa ‘Asyura` yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bukan suatu bentuk perayaan tetapi suatu wujud syukur beliau atas diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. Sebagaimana yang dinyatakan oleh ‘Abdullah bin Sulaiman bin Mani’  berikut:

فَإِنَّ أَمْرَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أُمَّتَهُ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ شُكْرًا ِللهِ تَعَالىَ عَلَى إِنْجَائِهِ نَبِيَّهُ مُوْسَى لاَ يُعْنَى إِتِّخَاذَهُ عِيْدًا مِنَ اْلأَعْيَادِ وَ لاَ اْلإِسْتِدْلاَلَ بِهِ عَلَى إِقَامَةِ الْمَوَالِدِ . وَ إِنَّمَا يُعْنَى الْقِيَامَ بِشُكْرِ اللهِ تَعَالَى . 5

Artinya:

Maka sesungguhnya perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (kepada) umatnya untuk puasa pada hari ‘Asyura` (sebagai) rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas penyelamatan-Nya kepada Nabi-Nya Musa  itu tidak dapat dimaknai menjadikannya sebagai suatu hari raya dari hari-hari raya dan tidak pula sebagai pengambilan dalil dengannya (puasa) untuk merayakan maulid. Dan sesungguhnya tiada lain ia (perintah puasa) dimaknai sebagai bentuk melakukan syukur kepada Allah Ta’ala.

Hal ini sebagaimana yang dinyatakan pula oleh Ath-Thahawi [6].

Dari keterangan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa puasa ‘Asyura` yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk menunjukan rasa syukur beliau kepada Allah atas diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun, bukan untuk merayakan hari ‘Asyura` tersebut.

Dengan demikian, alasan pertama M. Quraish Shihab di atas tidak dapat diterima, wallahu a’lam.

Adapun tentang alasan kedua M. Quraish Shihab, menurut penulis tidak dapat diterima pula karena:

Pertama, sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab analisis data (hlm. 11) bahwa pengucapan selamat Natal itu mengandung unsur kekafiran karena seseorang yang mengucapkan selamat Natal berarti dia mengucapkan selamat atas lahirnya seorang anak Tuhan. Dengan kata lain, dia telah mengakui bahwa Allah mempunyai anak –subhanallah ‘amma yashifun-, sehingga seseorang yang mengucapkan selamat Natal itu berarti dia mengucapkan suatu kata yang mengandung kekafiran.

Adapun seseorang yang mengucapkan suatu kata yang mengandung kekafiran untuk maslahat dunia, meskipun dia tidak meyakininya, maka dia telah dianggap kafir. Sebagaimana pernyataan Ibnu Taimiyyah berikut:

وَ الرَّجُلُ لَوْ تَكَلَّمَ بِكَلِمَةِ الْكُفْرِ لِمَصَالِحِ دُنْيَاهُ مِنْ غَيْرِ حَقِيقَةِ اعْتِقَادٍ صَحَّ كُفْرُهُ بَاطِنًا وَظَاهِرًا 7

Artinya :

Dan seseorang apabila mengatakan sebuah kalimat kekafiran untuk maslahat-maslahat dunianya tanpa sebenar-benar keyakinan (maka) telah benar kekafirannya baik secara batin maupun dhahir.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa meskipun seseorang yang mengucapkan selamat Natal tetap bersikap arif bijaksana dan bertujuan untuk memenuhi tuntutan keharmonisan hubungan, maka pengucapnya tetap  dianggap kafir karena telah mengucapkan kata yang mengandung kekafiran, meskipun dia tidak meyakininya. Oleh karena itu, hal ini tidak boleh dilakukan.

Kedua, syari’at Islam ini berlaku untuk semua kalangan, baik yang dikhawatirkan ternodai akidahnya maupun yang tidak, sebagaimana yang diutarakan oleh Al-Habib Muhammad Rizieq berikut ini:

Syariat Islam buat semua lapisan umatnya, ulama dan awam, pejabat dan rakyat, kaya dan miskin. Karenanya, apa pun yang menjadi mazhonnatul fitan diharamkan, baik bagi yang imannya kuat, apalagi yang imannya lemah. Lebih-lebih jika mazhonnatul fitan-nya menyangkut aqidah sebagaimana telah diuraikan tadi. [8]

Pernyataan Al-Habib Muhammad Rizieq di atas dapat diterima karena sesuai dengan maksud ayat 158 surat Al-A’raf berikut:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِِّيْ رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعاً .

Artinya:

Katakanlah: Wahai manusia, sesungguhnya aku (Muhammad) adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.

Ath-Thabari menerangkan maksud ayat di atas sebagai berikut:

يَقُوْلُ تَعَالَى ذِكْرُهُ لِنَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : ( قُلْ ) يَا مُحَمَّدُ لِلنَّاسِ كُلِّهِمْ  ( إِنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعًا )  لاَ إِلَى بَعْضِكُمْ دُوْنَ بَعْضٍ ، كَمَا كَانَ مَنْ قَبْلِيْ مِنَ الرُّسُلِ ، مُرْسَلاً إِلىَ بَعْضِ النَّاسِ دُوْنَ بَعْضٍ . فَمَنْ كَانَ مِنْهُمْ أُرْسِلَ كَذلِكَ ، فَإِنَّ رِسَالَتِيْ لَيْسَتْ إِلَى بَعْضِكُمْ دُوْنَ بَعْضٍ ، وَ لَكِنَّهَا إِلَى جَمِيْعِكُمْ . 9

Artinya:

Berkalam Yang Maha Tinggi sebutan-Nya kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Katakanlah” wahai Muhammad kepada manusia seluruhnya. “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua” tidak kepada sebagian kalian tanpa yang lain, sebagaimana para utusan sebelumku itu diutus kepada sebagian manusia tanpa sebagian yang lain. Maka barangsiapa dari mereka yang diutus seperti itu, maka risalahku tidak hanya untuk sebagian kalian tanpa yang lain, akan tetapi ia (risalah) untuk kalian semua.

Selain itu, khitab ayat ini menggunakan kata النَّاسُ yang termasuk salah satu lafal ‘am. [10] Sedangkan lafal ‘am itu hukumnya berlaku bagi semua individu yang termasuk dalam lafal tersebut, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. [11] Menurut sebagian mufasir, ayat ini tidak mempunyai dalil yang mengkhususkannya karena khitab النَّاسُ dalam ayat ini hanya berlaku bagi mukalaf saja. [12] Dengan demikian, risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini berlaku secara umum dan tidak membedakan antara seorang yang dikhawatirkan ternodai akidahnya maupun yang tidak, selama dia termasuk mukalaf.

Berdasarkan ayat 73 surat Al-Ma`idah (lihat analisis hlm. 10-12) dan ayat 7 surat Az-Zumar (lihat analisis hlm. 14), pengucapan selamat Natal itu haram dilakukan, maka keharaman ini berlaku secara umum pula tanpa membedakan yang dikhawatirkan ternodai akidahnya maupun yang tidak, selama dia termasuk golongan mukalaf.

Dalam sebuah kaedah Ushul Fiqh disebutkan bahwa keharaman itu boleh dilakukan apabila dalam keadaan darurat, [13] sedangkan tuntunan keharmonisan hubungan tidak termasuk keadaan darurat.

Dengan demikian, pernyataan M. Quraish Shihab bahwa pengucapan selamat Natal boleh bagi orang-orang yang akidahnya tetap terjaga, terlebih untuk memenuhi keharmonisan hubungan itu tidak dapat diterima, wallahu a’lam.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendapat bolehnya mengucapkan selamat Natal itu tidak dapat diterima, wallahu a’lam.

2.   Haram (hlm. 9)

Pendapat ini diutarakan oleh kebanyakan ulama, antara lain: Ibnul Qayyim, Syaikh Al-‘Utsaimin, Al-Habib Muhammad Rizieq bin Husain Syihab, dan Al-Ustadz KH. Mudzakkir.

Berikut ini pernyataan Ibnul Qayyim:

وَ أَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِاْلإِتِّفَاقِ مِثْلُ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَ صَوْمِهِمْ .14

Artinya :

Dan adapun mengucapkan selamat atas syiar-syiar kekafiran yang khusus dengannya (kekafiran) maka (hukumnya) haram secara mufakat, misalnya mengucapkan selamat kepada mereka atas hari-hari raya mereka dan puasa mereka.

Menurut penulis, pernyataan Ibnul Qayyim di atas dapat diterima karena berdasarkan analisis ayat 73 surat Al-Ma`idah (lihat hlm. 10-12) dan analisis ayat 7 surat Az-Zumar (lihat hlm. 14), pengucapan selamat Natal itu haram dilakukan, wallahu a’lam.

Adapun Syaikh Al-‘Utsaimin, beliau menyatakan bahwa mengucapkan selamat atas suatu hari raya di luar Islam itu menunjukkan bahwa pengucapnya ridla dengan salah satu syi’ar kekafiran. Sedangkan ridla dengan kekafiran itu haram. Beliau berhujah dengan surat Az-Zumar ayat 7. Berikut ini pernyataan beliau:

وَ إِنَّمَا كَانَتْ تَهْنِئَةُ الْكُفَّارِ بِأَعْيَادِهِمُ الدِّيْنِيَّةِ حَرَامًا ، وَ بِهذِهِ الْمَثَابَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا ابْنُ الْقَيِّمِ ؛ ِلأَنَّ فِيْهَا إِقْرَارًا لِمَا هُمْ عَلَيْهِ مِنْ شَعَائِرِ الْكُفْرِ ، وَرِضًا بِهِ لَهُمْ ، وَ إِنْ كَانَ هُوَ لاَ يَرْضَى بِهذَا الْكُفْرِ لِنَفْسِهِ ، لَكِنْ يَحْرُمُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَرْضَى بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ ، أَوْ يُهَنِّئَ بِهَا غَيْرَهُ ِلأَنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَرْضَى بِذلِكَ ، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِنْ تَكْفُرُوْا فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلاَ يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَ إِنْ تَشْكُرُوْا يَرْضَهُ لَكُمْ .15

Artinya :

Dan sesungguhnya tiada lain mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir atas hari-hari raya keagamaan mereka itu haram dan seperti ini pula yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim, karena di dalamnya (pengucapan selamat) ada pengakuan terhadap apa yang mereka berada padanya dari syiar-syiar kekafiran, dan ridla dengannya (kekafiran) bagi mereka, meskipun dia tidak ridla dengan kekufuran itu untuk dirinya. Akan tetapi, haram atas seorang muslim untuk ridla dengan syiar-syiar kekafiran atau mengucapkan selamat dengannya (syiar-syiar kekafiran) kepada orang lain karena Allah Ta’ala tidak ridla dengan hal itu, sebagaimana Allah Ta’ala berkalam, “Jika kalian kafir, maka sesungguhnya Allah tidak membutuhkan kalian. Dan Dia tidak meridlai kekafiran bagi hamba-hambaNya. Dan jika kalian bersyukur, Dia meridlainya bagi kalian.”

Menurut penulis, pernyataan Syaikh Al-‘Utsaimin di atas dapat diterima karena surat Az-Zumar ayat 7 tersebut dapat dijadikan hujah untuk mengharamkan pengucapan selamat Natal, (lihat analisis hlm. 14).

Dengan demikian, pendapat Syaikh Al-‘Utsaimin tersebut dapat diterima, wallahu a’lam.

Adapun Al-Ustadz KH. Mudzakkir, beliau menyatakan bahwa seseorang yang mengucapkan selamat Natal berarti dia mengucapkan selamat atas lahirnya ‘Isa Al-Masih yang menurut keyakinan Nashara adalah seorang anak Tuhan. Dengan kata lain, dia telah mengakui adanya seorang anak Tuhan, padahal sebagaimana yang disebutkan dalam ayat 73 surat Al-Ma`idah bahwa seorang yang mengatakan bahwa ‘Isa Al-Masih adalah anak Tuhan maka dia dianggap kafir. [16]

Berdasarkan analisis ayat 73 surat Al-Ma`idah (hlm. 10-12), ayat tersebut dapat dijadikan hujah untuk mengharamkan pengucapan selamat Natal. Dengan demikian, pendapat Al-Ustadz KH. Mudzakkir tersebut dapat diterima, wallahu a’lam.

Berdasarkan uraian di atas, pendapat haramnya mengucapkan selamat Natal kepada orang Nashara dapat diterima, wallahu a’lam.

____________________________________________________________________________________________

Footnote:

[1] Lihat Al-Qur`an Kitab Toleransi susunan Zuhairi Misrawi, hlm. 315-316.

[2] Az-Zuhaili, Ushulul Fiqhil Islami, jld. 2, hlm. 122.

[3] Lihat Membumikan Al-Qur`an susunan M. Quraish Shihab, hlm. 580.

[4] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur`an, hlm. 583.

[5] ‘Abdullah bin Sulaiman bin Mani’, Hiwarun ma’al Maliki fi Raddi Munkaratihi wa Dlalalatih, hlm. 56.

[6] Lihat Syarhubni Baththali ‘ala Shahihil Bukhari susunan Ibnu Baththal, jld. 4, hlm. 117.

[7] Ibnu Taimiyyah, Al-Fatawal Kubra, jld. 6, hlm. 75.

[8] Lihat Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah susunan Habib Rizieq, hlm. 141.

[9] Ath-Thabari, Jami’ul Bayani fi Tafsiril Qur`an, jld. 6, jz. 9, hlm. 59.

[10] Lihat Ushulul Fiqhil Islami susunan Dr. Wahbah Az-Zuhaili, jld. 1, hlm. 239.

[11] Lihat Ushulul Fiqhil Islami susunan Dr. Wahbah Az-Zuhaili, jld. 1, hlm. 243.

[12] Lihat At-Tafsirul Kabir susunan Ar-Razi, jld. 8, jz. 15, hlm. 23.

[13] Lihat Al-Asybahu wan Nadha`ir susunan As-Suyuthi, hlm. 120.

[14] Ibnul Qayyim, Ahkamu Ahlidz Dzimmah, jld. 1, hlm. 205.

[15] Fahd As-Sulaiman, Majmu’u Fatawa wa Rasa`ili Fadhilatisy Syaikh Muhammadibni Shalih Al-‘Utsaimin, jld 3, hlm. 44.

[16] Hasil wawancara penulis dengan Al-Ustadz K.H. Mudzakkir pada 22 Oktober 2014 di maktabah Ma’had Al-Islam Surakarta.

____________________________________________________________________________________________

PENUTUP

  1. Simpulan

Hukum mengucapkan selamat Natal kepada orang Nashara adalah HARAM.

  1. Saran

Hendaknya muslimin tidak mengucapkan selamat Natal meskipun hal itu sebagai wujud toleransi dalam agama, menjaga keharmonisan hubungan, maupun untuk hal-hal yang lainnya.

 وَ للهِ الْحَمْدُ وَ الْمِنَّةُ 

Ditulis Oleh : Ustadz Bilal Fahrururozi, Al. Lc

Leave a Reply