Seberuntung Musibah dalam Menuai Kesabaran Bikin Sedihmu Hilang

Seberuntung Musibah dalam Menuai Kesabaran Bikin Sedihmu Hilang

Kira-kira apa yang akan diceritakan tentang kesabaran disini? Masih penasaran dengan judul di atas? Langsung saja baca artikel di bawah ini   . . .  .

 

Wanita itu amat terguru. Tangisnya tersedu-sedan. Pundaknya berguncangan. Di tepi sebuah pusara yang masih basah, ia meratap. Tampaknya ia belum bisa mengikhlaskan kepergian buah hatinya.

“Bertakwalah, “ sebuah suara lembut tiba-tiba menyemilir dari belakang menasihati, “dan bersabarlah.”

“Pergi kau!” jawab wanita itu dengan kasar, dengan tangis yang menyengguk, “sungguh kau tak merasakan musibah ini!”

Setelah lama berselang. Setelah kesedihan yang teramat itu berangsur hilang, wanita itu diberitahu bahwa orang yang menasihatinya tadi adalah Baginda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Segeralah wanita itu berlari ke rumah Rasulullah, mengajukan permintaan maaf, “maaf, saya tak mengenali Anda tadi.”

Dengan santun, Nabi bersabda, “Sabar itu ada pada hantaman yang pertama.”

***

Setiap kita pasti pernah terkena musibah. Hanya saja, tentu beragam bentuknya, ada yang ditinggal orang tersayang, ada yang kehilangan barang, ada yang gagal ujian dan bermacam ujian masalah lainnya.

Seringkali, ketika sedang dikaruniai musibah, terbetik fikir dalam benak, “Kenapa aku diberi musibah seperti ini?”. Kebanyakan pertanyaan seperti itu baru muncul ketika musibah terasa amat berat, ketika seakan batas daya untuk menerimanya sudah terlampaui.

Sebenarnya pertanyaan itu sangat bagus, terlebih jika selanjutnya mendapat jawaban yang tepat dan benar. Sebagaimana hukum kausalitas tak bisa dipungkiri, musibah pun diberikan bukan tanpa sebab.

Setidaknya bagi orang beriman, musibah diberikan kepadanya karena dua alasan. Yang pertama, karena orang beriman tersebut telah berbuat kesalahan dan mulai melenceng dari jalan petunjuk Allah Ta’ala. Pada kondisi seperti ini, orang beriman tersebut perlu diberi reminder yang bisa saja berupa sebuah musibah, agar dia ingat kepada Allah Ta’ala, meminta pertolonganNya, memohon ampunanNya dan mendekat kepadaNya.

Yang kedua, karena Allah ingin menguji tingkat keimanan seorang hambaNya. Setelah diberi musibah, diharapkan seorang hamba mampu lebih mendekat kepada Allah Ta’ala dengan pinta dan doanya. Kemudian, jika ia mampu melewati musibah ini dengan baik, maka derajatnya di hadapan Allah Ta’ala bisa naik.

Dari dua alasan di atas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa sebenarnya musibah itu diberikan kepada orang beriman dengan satu tujuan, agar lebih dekat kepada Allah Ta’ala. Dengan demikian, kesan yang termunculkan dari musibah bukanlah suatu hal yang buruk lagi, justru musibah itu mempunyai kesan baik.

Orang beriman menghadapi musibah dengan kesabarannya. Kesabaran yang membuatnya tidak lepas kendali. Kesabaran yang membuatnya tetap berhusnudhon terhadap Allah Ta’ala. Kesabaran yang menyebabkannya justru menepi kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman, “wa basysyirish shobirin. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar”. Musibah yang dihadapi dengan kesabaran orang beriman membuahkan kabar gembira. Padahal kabar gembira dari Allah itu tak hanya berbatas di dunia, namun lebih jauh dan lebih besar nanti ketika di akhirat. Kabar gembira artinya Jannah dengan penuh keridloan Allah.

Wallahu yuhibbush shobirin. Dan Allah itu mencintai orang-orang yang bersabar.” Seseorang yang sudah dicintai Allah itu auto bahagia hidupnya, di dunia-akhirat. Demikianlah keyakinan yang harus kita tanamkan sejak awal, sebagai orang yang beriman, bersabar dalam musibah. Inilah keyakinan pertama.

Innallaha ma’ash shobirin. Sesungguhnya Allah membersamai orang-orang yang bersabar.” Maka, janganlah kita merasa sendiri dalam menghadapi musibah. Dibersamai Allah itu artinya, siap ditolong dan dibantu. Inilah keyakinan kedua yang harus benar-benar kita tanam.

Innama yuwaffash shobiruna ajrohum bi ghoiri hisab. Sesunguhnya tiada lain pahala orang bersabar akan disempurnakan tanpa hitungan.” Orang yang bersabar pahalanya sebesar sifat MahaPengasih Allah Ta’ala kepada para hambaNya.

“Salamun ‘alaykum bima shobartum. Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” Lalu pada akhirnya, sebelum memasuki Jannah, Allah ucapkan salam atas mereka. Sungguh indah. Sungguh menentramkan. Sungguh nikmat yang tak bisa diungkap kata-kata.

Tak semua orang dikaruniai musibah. Artinya, hanya sebagian mereka yang beruntung dikaruniai musibah. Sampai disini, masihkah kita mengeluh jika mendapat musibah? Sedangkan kita adalah orang beriman? Sedangkan kita sudah faham betul hakikat musibah?

Baca artikel kami selanjutnya . . . .

 

 

Tinggalkan komentar